[English Version]

Introspeksi

introspeksiKatakanlah aku ini tak biasa berbahasa baku, kalau ingin membahasakan sesuatu untuk jadi baku, mungkin ada baiknya berbahasa yang tak biasa dahulu. Dan kalau belum bisa terbiasa, baiklah dibiasakan saja dahulu sampai jadi biasa.

Kalau belum bisa membakukan pewahyuan dan kalau ingin membahasakan Pewahyuan menjadi baku, mungkin ada baiknya kami berbahasa yang biasa saja dahulu karena tak ada bahayanya dan takkan ditolak.  Sekarang pembakuan Kewahyuan tak kan pernah bisa ditanamkan karena selamanya ditolak.

Begitulah ilmu pengetahuan baru dari Tuhan yang kami ajukan ke Kompasiana.com telah dihapuskan tak lama setelah ditayangkan. Dan kami mengajukan kembali penuturan ilmu baru berikutnya dari Tuhan itu, dengan pemikiran barangkali yang ini takkan terhapuskan. Namun sayangnya artikel Eden di Kompasiana.com kembali dihapuskan tanpa bisa kami pahami apa sebabnya.

Moderator Kompasiana.com mungkin jengah melihat bahasa Pewahyuan nan tak biasa dan kembali kami pun harus bersabar dan tak perlu melihat siapa yang salah dan siapa yang getun.  It’s a very loud voices of rejection. It seems not reasonable. For I have  to write a lot of humanity articles to change the public opinions.

Ah, untuk apa dipikirin. Sudah waktunya melewatkan kebenaran tak melalui lorong-lorong kegelapan lagi. Kulihat jalur I.T tak sekejam palu hakim yang menentang Pewahyuan. Jalur I.T semacam jalur yang bebas hambatan, boleh dilalui oleh siapa saja. Bayangkan bila itu bisa dipakai untuk menyeruakkan kebenaran dari Tuhan, niscaya kami akan melalui jurang-jurang terjal juga. Tapi dunia maya juga adalah dunia malaikat yang bersahaja, tapi nun bisa mengatasi lonjakan stagnasi yang diakibatkan oleh penolakan publik.

Bayangkan bila semua orang menghujat dan semua data itu tersimpan dengan baik dalam catatan arsip digital yang dapat diakses kapan saja. Peluang apa pun dapat digunakan untuk mendapatkan bukti kesalahan maupun bukti kebenaran. Kecanggihan I.T dapat diharapkan menjadi kontribusi pelegaan bagi yang haus terhadap kebenaran, bilamana kebenaran itu justru berada di tengah pergulatan, perdebatan antara yang membatasi kebenaran dan yang hak. Tak kukatakan sebagai antara yang salah dan yang benar, karena kita sedang berada di antara yang seolah-olah kebenaran dan kebenaran itu sendiri. Kontribusinya hanya terletak pada siapa yang lebih jujur.

It is very impossible to move to the other side. Since we are just the people who work  underground, so we have to move impeccably. Labeled calumny is too hard to be blamed, besides no body is perfect. 

Jungkir balik pun kami ini tak bisa dipercaya kalau kami menyatakan bahwa yang kami nyatakan ini benar-benar Wahyu Tuhan. So far no body would believe us. Dan tak ada pembelaan atas apa pun yang kami nyatakan. Maka kami lebih memilih mendiamkan petaka fitnah-fitnah menggelora seapa-adanya. Dan kami menikmati saja segala konsekuensi-konsekuensinya tanpa harus bertendensi mencari kebenaran secara serabutan.

Di saat ini kalau kami dibawakan oleh-oleh apa saja, akan terasa sangat nikmat, bahwa setiap pemberian yang tulus akan terasa nikmatnya, sampai kita menemukan perubahan dari ketulusan itu atau keberlarutannya. Kalau kita menemukan keberlarutan ketulusan, sekecil apa pun itu, rasanya amat nikmat dan patut disyukuri.

Setiap perubahan di dunia ini niscaya berasal dari suatu petaka atau dari suatu kebenaran yang diperjuangkan. Dan kami memilih berjalan di antara petaka untuk suatu kebenaran. Bahwa semua kejadian di dunia ini berasal dari ketunggalan (singularitas) semata, yaitu dari sesuatu yang kemudian digiring kepada kebenarannya dan kemudian ada juga yang menggiringnya kepada sebaliknya. Dan membelahlah sesuatu itu menjadi dua yang berbeda, kemudian menjadi tiga, empat dan seterusnya.

Kalau sudah seperti itu, walaah mak, semua orang pun jadi bingung, siapa yang benar, siapa yang salah. Dan kebenaran pun panik, ingin pulang kampung saja. Bersahaja dan tak menjadi siapa-siapa.

Siapa yang bisa menjadi koordinat kebenaran kalau sudah seperti itu? Kalau pra-peradilan saja vonisnya sering salah, Mahkamah Agung saja tak becus mengurusi kebenaran dan hukum secara tuntas dan adil. Lalu kita minta keadilan dari mana, kalau semua orang pun juga bersalah dan kurang akurat? Banyak orang tegas menyatakan sesuatu tapi ada maunya di balik itu. Banyak orang plin-plan karena takut. Menontoni TV melihat para tokoh, sebentar membenarkan sebentar menampik. Ucapannya yang mana yang benar? Rakyat pun jadi bingung, tapi malaikat justru tidak bingung, karena materi gagasannya terhadap pembalikan arus, justru menjadi padat dan argumentatif.

Kalau orang yang dalam kekuasaan juga tak bisa dipercaya ucapannya, demikianpun rakyat kecil yang kena gusur, berontak dan mencaci-maki, dan di waktu lain berdemo membawa slogan yang tak dimengerti untuk apa mereka ramai-ramai mengusung itu, kecuali untuk suatu hal, yaitu untuk sebungkus nasi campur dan uang ala kadarnya.

Orang miskin menggadaikan kebenarannya dengan murah. Orang berstatus menggadaikan kebenarannya dengan setumpuk rupiah dan dollar demi saham dan obligasi. Tapi kalau manusia tak punya keinginan, apa yang bisa dicapai? Hanya sedikit kesenangan, yaitu tidak ikutan jahat. So what! Cuma itu? Apa enaknya kalau tak punya apa-apa selain harga diri?

Kalau sudah sampai di sini, orang pun hanya bisa bertanya, apakah orang baik itu hanya bisa berpasrah dan cukup puas karena tak ikut melakukan kecurangan-kecurangan yang lagi trendi. Sampai di sini, kami hanya bisa berkata: “Masih banyak jalan ke Surga”.

Seberapapun jalan ke Surga niscaya kalau bisa menyusuri satu jalan, yaitu ketulusan. Dari situ ada ketulusan kejujuran, ketulusan kebenaran, ketulusan keberanian, ketulusan mengabdi, ketulusan berkorban, ketulusan berdagang atau ketulusan menjadi sesuatu yang tak disukai dan lain sebagainya. Nah, bagaimana kalau Anda menjalani yang salah satunya saja dahulu, sebelum beranjak ke yang lainnya.

https://komunitaseden.com/2015/09/05/ketulusan-seorang-tukang-sampah/
https://komunitaseden.com/2015/09/05/ketulusan-pak-rt/
https://komunitaseden.com/2015/09/05/ketulusan-bude-gudeg-pasar-kaget-poncol/