Apakah Eden Itu Agama?

Eden bukanlah institusi agama. Eden adalah Surga yang diturunkan Tuhan Yang Maha Esa, yang diperuntukkan bagi semua umat manusia yang menganut agama atau kepercayaan apapun yang  berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Surga Eden dihadirkan sebagai sarana pensucian diri.

“Surga bukan belantara pensucian dan bukan pula sekedar lukisan tentang kehidupan bahagia di Surga. Surga adalah suatu kenyataan lahiriah yang menyatakan Berkah dan Karunia Tuhan bagi yang bersungguh-sungguh bersuci.” (Teologi untuk Pancasila Jilid III, “Jibril Bisa Melakukan Penampakan di Beberapa Tempat yang Berbeda dan di Wilayah yang Berbeda pada Hari yang Sama”).

Tuhannya Eden Itu Tuhan yang Mana?

Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta, beserta seluruh isinya. Tuhan yang sama yang disembah oleh sebagian besar umat manusia. Umat Islam menyebut dengan sebutan Allah Subhanahu wa ta’ala; Kristen, Bapa; Yahudi, YHVH (Yahweh); Hindu, Sang Hyang Widi; orang barat menyebutnya God. Yang terpokok adalah, semua sebutan dari nama-nama tersebut tertuju kepada Dzat Yang Maha Esa (Tunggal).

Bagaimana Konsep Tuhan Menurut Eden?

Eden mengimani Tuhan Yang Maha Esa, yang Kemahabesaran Ruh-Nya meliputi seluruh alam semesta dan seluruh isinya. Di akhir zaman ini, saat Tuhan menurunkan Surga-Nya ke bumi, Tuhan memberi petunjuk bahwa Dia bukan hanya Yang Maha Gaib, tapi juga Wujud-Nya Maha Nyata, sebagaimana Tuhan menjelaskan keberadaan Diri-Nya dan juga Wujud-Nya yang bulat dan berotasi. Penjelasan Konsepsi Tuhan inilah yang menjadi pijakan dasar bagi terwujudnya Peradaban Surga pasca agama.

Teologi Surga sangat menekankan absolute monotheism (Tauhid). Tidak ada lagi pemberhalaan dan penyekutuan terhadap-Nya, bahkan terhadap agama dan para utusan-Nya sekalipun. Tuhan melarang keras segala bentuk kemusyrikan, sebagaimana pemujaan terhadap Nyi Loro Kidul, roh, perdukunan, klenik, jimat, serta takhayul.

Walaupun Eden sangat berpijak pada monoteisme absolut dan zero toleran terhadap segala bentuk kemusyrikan, tapi Ketuhanannya tidaklah bersifat anthropomorphic (mempersonifikasikan Tuhan), tetapi Tuhan adalah perwujudan alam semesta itu sendiri (panteisme). Juga, Tuhan dan alam itu satu adanya (monisme). Lebih jauh Tuhan menjelaskan bahwa Wujud-Nya itu bulat dan berotasi, sebagaimana Wahyu Tuhan yang telah tercantum di buku Teologi untuk Pancasila Jilid I:

“Kalaulah Wujud-Ku Yang Bulat dan Berotasi itu harus Kujelaskan kepada Utusan-Ku yang awam sama sekali terhadap ilmu kesemestaan dan Astrofisika, maklum dia berlatar belakang hanya dengan ilmu seni merangkai bunga saja, maka Aku harus menjelaskan kepadanya dengan cara yang sederhana, sebagaimana Aku menyuruhnya untuk membelah buah jeruk Sunkist dan Kuminta dia memperumpamakan itu sebagai simbolisasi liputan alam semesta.

Bahwa Bumi yang ditempati dia sekarang ini, hanyalah seperti satu titik kecil saja di antara isi buah jeruk itu. Dan Aku mengumpamakan seluruh isi jeruk itu adalah seluruh benda semesta. Dan Kuterangkan jaringan aliran Ruh-Ku yang mensemesta itu juga menggunakan simbolisasi serat kulit dalam yang tipis dari jeruk tersebut, yang berpenampang dari titik pusat tengah menyebar ke segala arah dengan teratur sampai ke kulit jeruk.

Dan lapisan kulit jeruk Kusebutkan sebagai simbol mantel semesta yang berfungsi menahan pengembangan semesta yang berlebihan, sehingga keliputan pengembangan semesta selalu bisa distabilkan kembali. Dan Kuperintahkan dia membuat skema penampang jaringan aliran Ruh-Ku yang meliputi semesta. Demikian dengan hanya menjelaskan melalui jeruk Sunkist yang dibelah dua itulah Aku berhasil membawa pemikirannya untuk meyakini Wujud-Ku Yang Bulat dan Berotasi….”

Apakah Benar Paduka Bunda Mengaku Tuhan?

Paduka Bunda Lia Eden tidak pernah mengaku sebagai Malaikat Jibril apalagi mengaku sebagai Tuhan. Paduka Bunda Lia Eden adalah reinkarnasi Bunda Maria, tapi beliau juga manusia sebagaimana pada umumnya, yang dipilih Tuhan sebagai medium untuk menyampaikan Wahyu-wahyu-Nya, dan medium untuk menyampaikan Sabda Malaikat Jibril.

Bila ada subyek ‘Aku’ di dalam Wahyu Tuhan yang sedang disampaikan oleh Paduka Bunda, itu merujuk kepada Tuhan, bukan merujuk kepada Paduka Bunda. Beliau memang diberi kemampuan untuk menerima dan menyampaikan Wahyu Tuhan, tetapi bukanlah ia kemudian menjadi Tuhan. Proses yang sama juga terjadi pada utusan-utusan Tuhan sebelumnya.

Dan kami yang tinggal bersama Paduka Bunda bersaksi bahwa kami bisa membedakan saat Paduka Bunda menyampaikan Wahyu Tuhan atau saat Paduka Bunda sedang menyampaikan sabda Malaikat Jibril, demikianpun saat Paduka Bunda berbicara atas nama pribadinya. Baik lisan maupun tulisan, tak pernah Paduka Bunda mengaku sebagai Tuhan.

Hukum Apa yang Dipatuhi Eden?

Eden mematuhi hukum Tuhan yang terkini, yang diturunkan pada saat ini di Eden. Namun demikian, Eden menghargai hukum-hukum Tuhan yang bersifat universal yang telah ada di kitab-kitab suci agama yang bersifat universal. Eden juga mematuhi hukum-hukum semesta dengan berkewajiban untuk memelihara, menjaga dan melestarikan alam semesta. Karena alam semesta adalah perwujudan nyata dari Tuhan Yang Maha Esa, maka merusak alam dan merusak lingkungan hidup, beserta flora dan fauna, adalah merupakan dosa dan kesalahan.

Seperti Apa Peribadatan Eden?

Eden tidak memiliki ritual dan peribadatan khusus. Apa yang kami lakukan di Eden adalah mengurusi Pewahyuan Tuhan, dan itu adalah ibadah. Ibadahnya Eden adalah bersuci dan tidak melakukan dosa dan kesalahan sekecil apapun. Kami diajarkan untuk selalu melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan sempurna.

Setiap orang dapat memanjatkan doanya kepada Tuhan secara langsung dengan menggunakan bahasa apapun yang dimengerti olehnya, tanpa perantara atau diperantarai.

“…Bahwa peribadatan Eden itu hanya fokus pada Pewahyuan Tuhan bila sedang diturunkan ke Eden. Itulah peribadatan resmi Eden. Selainnya hanya berdoa dengan doa yang universal pada setiap kesempatan di mana memerlukan Pemberkatan Tuhan maupun Pertolongan Tuhan…” (Teologi untuk Pancasila Jilid I, “Wormhole, Kisah di balik Tongkat Wahyu Tuhan”).

Apakah Eden Memiliki Kitab Suci?

Kitab Suci Eden adalah Kitab Kehidupan/Kitab Suci Surga, yang isinya merekam perjalanan Utusan-Nya (Paduka Bunda Lia Eden) dalam mengemban Risalah-Nya, dan bagaimana umat menanggapi risalah Surga yang dibawanya, dan bagaimana Tuhan menyikapinya.

Dari perjalanan itulah Tuhan membuka makna ayat-ayat terahasia dalam kitab-kitab suci yang sebelumnya. Karena itulah, ia juga disebut sebagai Induk Kitab, karena memuat ayat-ayat dari Kitab Suci Veda hingga Al-Qur’an. Kitab suci tersebut juga memuat Pengadilan dan Penghakiman serta Penyelamatan dari Tuhan.

Bagaimana Eden Mendudukkan Rasul-rasul yang Sebelumnya Beserta Dengan Kitab-kitab Suci yang Dibawa Mereka?

Eden memuliakan seluruh para nabi dan utusan Tuhan dengan memuliakan seluruh kitab-kitab suci yang dibawanya, dan mendudukkannya dalam kesetaraan.

Eden mengimani bahwa seluruh kitab suci yang diturunkan Tuhan ke muka bumi (Veda, Bhagavad Gita, Tripitaka, Taurat, Injil, dan Al-Qur’an) adalah dari Tuhan yang satu. Dan Ruhul Kudus-lah yang ditugaskan Tuhan untuk menemui manusia yang dipilih Tuhan untuk menjadi utusan-Nya.

Antara satu kitab suci dengan kitab suci lainnya memiliki keterhubungan, kesinambungan, dan memiliki benang merah yang sama, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Ayat-ayat di dalam kitab-kitab suci tersebut menjadi rujukan dalam Kitab Suci Surga.

Dan ketika masing-masing umat beragama menjadikan agama dan utusan-Nya sebagai satu-satunya jalan keselamatan dengan menegasikan keselamatan di luar institusi agama yang dianutnya, maka Tuhan menurunkan kembali Malaikat Jibril Ruhul Kudus untuk meluruskan penyimpangan tersebut agar tiada lagi umat beragama yang menuhankan agamanya dan utusan-Nya.

Muliakanlah utusan Tuhan itu dengan menjadikan ajaran yang dibawanya menjadi nyata dalam laku sikap hidup umatnya, bukan mengkultuskan individunya dan merasa paling benar. Bila itu yang terjadi, maka ruh para utusan itu sangat menderita. Karena setiap penyimpangan agama oleh umatnya, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kepada para utusan-Nya tersebut.

“Dari penjelasanku ini, kiranya umat manusia dapat kusadarkan untuk tidak menuhankan manusia maupun malaikat. Maka sungguh bodoh manusia yang menuhankan berhala dan menuhankan arwah-arwah manusia biasa. Adapun Arwah Rasul Tuhan sekalipun tak bisa berbuat apa-apa, karena setelah selesai tugasnya menjadi Rasul Tuhan, maka dia akan bereinkarnasi sebagai orang biasa, orang yang awam terhadap Pewahyuan Tuhan.” (Teologi untuk Pancasila Jilid III, “Pemerintahan Tuhan di Injil”).

Setelah Paduka Bunda Lia Eden Wafat, Bagaimana Kelanjutan Eden?

Setelah Paduka Bunda wafat, maka Pewahyuan Tuhan di Eden selesai. Saat Paduka masih bersama kami, Pewahyuan pun telah terbakukan dalam Kitab Suci Surga. Dan kini giliran kami yang akan menyampaikan ajarannya itu untuk umat manusia.

Kami Komunitas Eden meyakini bahwa Paduka Maharaja Ruhul Kudus telah menyatu dengan Paduka Maharatu Lia Eden dalam roh, yang senantiasa memandu jalan kami untuk mewujudkan Surga Eden di bumi dengan merawat, memelihara, mengimplementasikan Wahyu-wahyu Tuhan, Sabda Paduka Maharaja Ruhul Kudus, maupun norma-norma yang telah dituliskan Paduka Bunda Lia Eden yang termaktub dalam Kitab Suci Surga.

Dari Mana Eden Tahu Bahwa yang Bersama Paduka Bunda Itu Malaikat, Bukan Jin?

Dari mana umat beragama tahu bahwa Nabi Musa, Yesus, dan nabi-nabi yang lainnya adalah orang-orang yang mendapatkan wahyu dari Tuhan? Pada awalnya, para nabi tersebut juga tak langsung diterima oleh umatnya, bahkan sebagiannya didustakan oleh kaumnya. Tapi Tuhan menunjukkan bahwa mereka memang benar-benar utusan Tuhan yang sejati melalui alam semesta. Waktu dan sejarah yang kemudian membuktikan kebenaran mereka, karena ajaran yang dibawanya (kitab suci) memberikan kemaslahatan bagi umat manusia dan semesta.

Kami meyakini bahwa yang datang kepada Paduka Bunda itu adalah Malaikat Jibril. Selama 26 tahun kami mendapatkan pelajaran dari Malaikat Jibril melalui Paduka Bunda tentang ketauhidan, kesucian, kebijaksanaan, persaudaraan, kejujuran, keadilan, kemanusian, persatuan dan nilai-nilai luhur universal. Malaikat Jibril pun secara konsisten mensucikan dan menghakimi kami manakala kami melakukan kesalahan.

Mengapa Eden Begitu Menentang Kemusyrikan dan Penyekutuan Terhadap Tuhan?

Dalam konteks Eden, mengapa Tuhan melarang kemusyrikan? Itu bukanlah karena Tuhan cemburu karena dipersekutukan, tetapi di dalam hukum penciptaan dan penetapan kehidupan seluruh makhluk-Nya, telah terdapat ketentuan-ketentuan atau hukum yang baku atas makhluk-Nya (manusia). Karena menjadi manusia adalah menjadi makhluk yang mulia di dalam evolusi perjalanan ruhnya, sedangkan kemusyrikan itu melanggar batas wilayah, lintas alam, yang mana dapat membuat manusia terjun bebas turun kodrat menjadi makhluk yang nista dan hina. Jadi sesungguhnya Tuhan ingin menjaga kemuliaan manusia sehingga tidak terjerumus turun kodrat.

Apa Itu Hukum Reinkarnasi dan Hukum Regulasi Ruh?

Di dalam Kitab Suci Surga, Tuhan membuka pengetahuan kepada manusia tentang alam ruh. Tuhan memberi pengetahuan lewat Utusan-Nya, Paduka Bunda Lia Eden, tentang Hukum Reinkarnasi dan Regulasi Ruh yang berputar dan berotasi secara siklus.

Di dalam Hukum Reinkarnasi dan Hukum Regulasi Ruh, Tuhan menjelaskan bahwa kedua hukum itu adalah keniscayaan hukum universal. Karena seluruh alam semesta dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari atom hingga bintang, semuanya bereinkarnasi dan beregulasi dalam keabadian. Hukum Reinkarnasi dan Hukum Regulasi Ruh itulah yang menjelaskan tentang hukum Kemahaadilan Tuhan terhadap seluruh makhluk-Nya. Melalui Hukum Regulasi Ruh itulah, Tuhan menjelaskan hukum pengkodratan setiap makhluk sesuai dengan amal perbuatannya.

“Tak ada kekiamatan semesta, yang ada hanyalah kekiamatan benda-benda semesta. Kelayakan jumlah kepadatan benda-benda semesta dalam ruang semesta itu sesuai dengan keteraturan semesta dan yang sesuai dengan hukum semesta yang selamanya sanggup menyesuaikan kepadatan jumlah benda-benda semesta dengan ruang yang tersedia…” (Teologi untuk Pancasila Jilid II, “Wahyu Tuhan Terkait dengan Kekekalan Ruh dan Semesta”).

Seperti Apa Surga dan Neraka Dalam Pandangan Eden?

Surga itu now & here (di sini dan saat ini) — begitu pun dengan Neraka. Semuanya terselenggara dalam kehidupan manusia saat ini. Ayat-ayat di dalam kitab suci yang mengisahkan tentang Surga maupun Neraka, sesungguhnya mengisahkan tentang kebahagiaan dan penderitaan kehidupan lahiriah di bumi ini.

Adapun Surga akhirat itu adalah Surga alam ruh, yaitu perubahan kodrat manusia yang bersuci setara dengan kesucian malaikat, yang kemudian ketika meninggal dia menjadi malaikat. Tapi keberadaannya tetap di alam semesta ini, hanya dimensinya saja yang berbeda.

Adapun Neraka di dunia adalah kejahatan, kejahanaman, kekejian, kesadisan, segala kenegatifan yang memaksimal dan bertolak belakang dengan kebenaran dan kesucian itu adalah habitat Neraka. Dan bila manusia melakukan semua kejahatan yang besar itu, dimungkinkan dia akan berbangkit menjadi iblis di dalam kehidupan berikutnya.

“…Kalau tak ada seorang manusia pun yang tahu tentang lokasi Neraka dan Surga yang sesungguhnya, maka jangan menolak kalau Kunyatakan bahwa Surga dan Neraka itu ada di dunia manusia itu sendiri. Kalau tak seperti itu, Kami tak bisa menjabarkan Hari Pembalasan…” (Teologi untuk Pancasila Jilid II, “Wahyu Tuhan: Orbit”)

Seperti Apa Kekiamatan Dalam Konsepsi Eden?

Tak ada kekiamatan total di multi-semesta Tuhan, yang ada adalah kekiamatan benda-benda semesta-Nya, karena multi-semesta Tuhan beregulasi dalam keabadian untuk selama-lamanya. Bumi yang kita tinggali ini sesungguhnya sudah mengalami beberapa kali kekiamatan dan kebangunan kembali. Semua terpulang kepada manusia menyikapi buminya. Sungguh bumi dan peradaban umat manusia saat ini sedang memasuki periode kekiamatan.

Surga Eden diturunkan Tuhan ke muka bumi saat ini adalah untuk menyampaikan peringatan dan penyadaran, bahwa kekiamatan bumi ini tak dapat dihalau dan ditunda bila perilaku umat manusia tak juga mau sadar bahwa sesungguhnya mereka berdurhaka kepada Tuhan dan juga telah merusak bumi dan lingkungannya. Terutama bila perang nuklir terjadi.

Namun bila umat manusia dapat disadarkan dan bertaubat kepada Tuhan, demikian manusia menyatu dalam kesatuan visi universal yang dikehendaki Tuhan sehingga manusia dapat menyalurkan seluruh energi potensialnya untuk perbaikan alam dan lingkungannya, maka dimungkinkan umat manusia dapat menunda datangnya kekiamatan total.

Dan Tuhan juga telah menurunkan ilmu pengetahuan sebagaimana yang telah dituliskan di buku Teologi untuk Pancasila dan buku Teori Segalanya, yang menerangkan tentang bagaimana cara manusia dapat berpindah ke planet bumi yang lain apabila kiamat bumi ini terjadi.

Adakah Utusan dan Pewahyuan Tuhan Lagi Setelah Paduka Bunda?

Pewahyuan itu otoritas Tuhan, hak prerogatif Tuhan. Sesuai Kehendak-Nya, Pewahyuan Tuhan terus mengalami keberlangsungan. Tiada kata akhir selagi kehidupan manusia dan alam semestanya masih terbentang. Hukum pensiklusan dan hukum perotasian tak mengenal arti kata akhir. Karena itu, proses pewahyuan akan terus berlangsung sekekal alam semesta dengan kehidupan yang ada di dalamnya. Paduka Bunda Lia Eden bukanlah utusan yang terakhir, tapi wahyu-wahyu yang dibawanya adalah yang termutakhir di zamannya.

Eden tidak membatasi kerasulan itu hanya oleh orang-orang yang membawa ajaran agama. Bagi Eden semua orang yang kekal karyanya di bidangnya masing-masing, bidang seni, sains, pengetahuan, teknologi, kedokteran, musik, dan sebagainya yang penemuannya bermanfaat  bagi kehidupan dan peradaban umat manusia, mereka itu sesungguhnya para utusan Tuhan. Karena itu, cakupan dan definisi utusan Tuhan itu luas. Dan semua berpulang kepada hak dan otoritas-Nya.  

Apakah Tuhan Masih Menurunkan Seorang Nabi untuk Menyampaikan Pesan-pesannya Setelah Nabi Muhammad? Bukankah Nabi Muhammad Itu Nabi Terakhir?

Terpenting untuk ditanyakan adalah apa pesan yang dibawanya — sejauh mana relevansinya dengan masalah-masalah yang dihadapi umat manusia di zamannya. Dan apakah pesan yang dibawa menjadi solusi untuk kemaslahatan umat dan kebaikan? Dan apa buah yang dihasilkan dari mereka yang mengimaninya?

Saat ini Tuhan tidak lagi menurunkan agama, tapi yang sedang diturunkan Tuhan adalah Surga sebagai penggenapan Janji Tuhan atas manusia.

“…Demikianlah penafsiran khatamun nabiyyin itu telah disalahtafsirkan sebagai keberakhiran kenabian, padahal sesungguhnya itu ditujukan untuk menyatakan bahwa di zaman akhir ini Tuhan tak menurunkan lagi agama, karena justru semua agamalah yang ingin disatukan, supaya semua umat tak perlu lagi saling bermusuhan. Dan kalau Surga diturunkan Tuhan ke dunia, maka seluruh rasul yang membawa ajaran agama pun dibangkitkan dan dikumpulkan di Surga untuk disucikan, dan diadili dan dihakimi dosa-dosanya yang diperbuat di akhir zaman ini…” (Teologi untuk Pancasila Jilid II, “Perang Nuklir Penyebab Kiamat”).

“…dan ketika ada perbedaan persepsi karena menganggap Pewahyuan Tuhan tak mungkin bisa diturunkan lagi, demikian mereka tidak pernah bisa sampai kepada alinea yang mana pun dari penulisan tentang pembaharuan total dari Tuhan ini.” (Teologi untuk Pancasila Jilid IV, “Mau Kemana Mencari Pembaharuan Agama”).

Benarkah Eden (Paduka Bunda Lia Eden) Semaunya Menafsirkan Ayat-ayat yang Ada di Dalam Kitab Suci Menurut Hawa Nafsunya Sendiri?

Tidak benar. Paduka Bunda Lia Eden itu seorang ibu yang awam dalam urusan agama, apalagi yang berkaitan dengan sains. Karena itu beliau tidaklah bisa menafsirkan ayat kecuali Tuhan membimbingnya. Demikian Tuhan memperjalankan dirinya, dan melalui pengalamannya itulah beliau dapat membuka makna ayat-ayat yang terahasia.

Makna baru ayat terahasia dari kitab-kitab terdahulu itu menjadi peneguhan terhadap utusan-Nya, sekaligus juga untuk menunjukkan kekekalan ayat-ayat dalam kitab-kitab suci yang telah ada.

...Demikian Aku menjamin pengetahuan tersebut berasal dari-Ku. Karena manalah Lia Eden bisa menuliskan sendiri tanpa bimbingan dari-Ku…” (Teologi untuk Pancasila Jilid I, “Wahyu TuhanTerkait dengan Teologi, Spiritualisme dan Teosofi Mistisisme Surga dan Neraka di Dunia”)

“….Begitulah Tuhan melibatkan diriku untuk memperagakan Kemahacerdasan Tuhan atas segala ilmu pengetahuan. Dan adalah cara kami mengingatkan para ilmuwan yang teorinya harus kami ingatkan, dan yang menuliskannya adalah Lia Eden yang awam dari ilmu pengetahuan. Dengan cara itu para ilmuwan jadi tahu bahwa yang dituliskan Lia Eden itu berasal dari Tuhan…”  (Teologi untuk Pancasila Jilid II, Sabda Paduka Ruhul Kudus dalam bab “Ritual Ekstrim Keagamaan itu Sesungguhnya tak Diberkati Tuhan”)

“….aku awam dalam bidang matematika, logika, peraturan, analisa, rasionalitas, obyektif dan bahasa. Kalaulah aku sekarang bisa menulis, itu karena asahan dari Jibril yang mengajariku menulis dari bahasa yang sederhana hingga yang sulit…” (Teologi untuk Pancasila Jilid I, “Entropi”)

Eden Pernah Menunggu UFO di Monas, dan Ternyata UFOnya Tak Datang Sebagaimana Pernyataan yang Telah Dirilis Eden Sebelumnya. Bagaimana Eden Menjelaskan Hal yang Tidak Terjadi Tersebut?

Kami memang sering memasuki jalan pensucian Tuhan. Karena keinginan kami yang sangat besar agar terbebas dari stigma sebagai orang-orang yang dianggap sesat, membuat kami selalu ingin melihat kemenangan itu datang. Dari sanalah datang ujian-ujian yang tak berkesudahan. Tapi bila kami lapang dan ikhlas menerima keadaan itu, maka Tuhan pun membalaskan segala pengorbanan kami itu dengan Rahmat-Nya.

Kami percaya bahwa suatu hari nanti, entah kapan waktunya, Tuhan akan menurunkan pesawat berteknologi tinggi yang akan menyelamatkan dan membawa orang-orang yang beriman dan bersuci ke planet bumi yang lainnya di luar planet bumi ini.

Ketika Tuhan melihat kami lapang dan bersabar atas ujian-Nya itu. Sebagai balasannya, turunlah penjelasan tentang Wujud Tuhan Maha Bulat dan Berotasi, juga tentang Teori Jeruk Sunkist yang menjadi dasar lahirnya buku Teori Segalanya.

Kalau dahulu kapal Nabi Nuh, di masa nanti adalah pesawat intergalaksi untuk penyelamatan umat manusia dari bencana besar di bumi. Kenapa tidak? Itulah kefungsian Surga, penyelamatan umat manusia. Perangkat ilmu pengetahuan dan teknologinya akan diturunkan, diberikan Tuhan sebagai Karunia-Nya yang seyogyanya disyukuri umat manusia.

Bagaimana Konsepsi Eden Tentang Pernikahan?

Sebagaimana di atas telah kami jelaskan bahwa norma dan etika yang telah menjadi ketetapan baku agama yang mewujudkan kemaslahatan, maka itu juga menjadi hukum di Eden, sebagaimana hukum perkawinan tetap berlaku. Yang terpokok adalah perkawinan itu dilandaskan oleh rasa saling mencintai dan tidak ada paksaan, dan di dalam perkawinan Eden hanya mengenal monogami dan mengharamkan poligami, karena kesetiaan itu beriringan dengan kesucian. Demikian poligami membuat seseorang tak dapat menghindar dari dusta karena dia tak mungkin dapat berlaku adil.

Bagaimana Penanganan Jenazah di Komunitas Eden?

Adapun perihal prosesi persemayaman, Paduka Bunda Lia Eden dikremasi dan abunya ditabur ke laut agar tidak ada pengkultusan dan pengeramatan jejak dan kuburannya. Sepatutnya kami Komunitas Eden juga mengikuti jejaknya, tetapi bagi Eden prosesi persemayaman bukan merupakan hal yang substansial. Beberapa di antara kami telah wafat mendahului Paduka Bunda, di antara mereka ada yang disemayamkan dengan cara kepercayaan yang dianut oleh keluarganya.

Bagi kami tak menjadi masalah dengan cara apapun seseorang disemayamkan. Eden lebih berada di tataran substansial dan tidak terlalu mempersoalkan hal-hal yang bersifat ritual/tradisi.

Seperti Apa Adab dan Etika Komunitas Eden Kepada Paduka Bunda Lia Eden?

Saat Paduka Bunda Lia Eden menyampaikan Firman Tuhan, maka kami semua wajib bersujud untuk berkhidmat kepada Wahyu-wahyu yang sedang diturunkan. Adapun bila kami terlihat sujud di hadapan Paduka Bunda Lia Eden, sesungguhnya itu adalah adab dan etika kepada Rasul Tuhan yang di dalam dirinya bersemayam Ruhul Kudus sebagai penyampai Firman Tuhan.

Kami membedakan posisi tubuh saat bersujud kepada Tuhan dengan penghormatan dan pengkhidmatan kepada Paduka Maharaja Ruhul Kudus dan Paduka Bunda Lia Eden yang menyatu di dalam diri Paduka Bunda.

Pada saat kami bersujud kepada Tuhan, kami sujud dengan dahi menempel ke lantai. Sementara kepada Malaikat Jibril Ruhul Kudus dan Paduka Bunda, kami menangkupkan kedua tangan dan membungkuk rendah layaknya sujud.

Membungkuk rukuk merupakan adab Surga bila kami hendak berbicara dengan seseorang untuk menghormati sesama manusia.

Bagaimana Caranya Bila Saya Ingin Masuk dan Mengikuti Ajaran Eden?

Eden bukanlah agama, karena itu Eden tidak mencari pengikut atau merekrut anggota. Tapi Eden adalah Surga yang diturunkan Tuhan ke bumi untuk semua umat beragama dan kepercayaan apapun. Karena itu siapapun yang mengimani bahwa Tuhan saat ini menurunkan kembali risalah Surga dan Kerajaan-Nya di bumi, hendaklah ia mengakui dosa di hadapan Tuhan Yang Maha Esa secara langsung, dengan menyebut “Atas Nama Tuhan Yang Maha Esa dan Atas Nama Kerajaan Tuhan dan Surga Eden” sebagai pembuka doa, tidak diperantarai oleh apapun dan siapapun. Akuilah dosa-dosa itu di hadapan Tuhan secara rinci, dan bersumpahlah tidak mengulangi kembali melakukan dosa dan kesalahan sekecil apapun.

Tebuslah dosa-dosa itu satu-persatu. Bila ada dosa yang kita lakukan dengan manusia, maka tebuslah itu, seperti halnya bila kita pernah mencuri, maka akuilah dan kembalikan barang seseorang itu. Bila korupsi, maka akuilah itu kepada para penegak hukum dan kembalikanlah uang hasil korupsi itu ke negara dan ke lembaga yang berwenang. Adapun bila pernah membunuh, maka akuilah dosa itu di hadapan polisi atau penegak hukum. Apabila pernah berzinah dengan orang yang punya pasangan, maka akuilah dan mintalah maaf kepada suami atau istri orang tersebut. Bila pernah menyakiti, maka mintalah maaf dengan menyebutkan kesalahan yang dilakukan kepada orang tersebut.

Yang tergerak hati untuk bersuci, ikuti hati. Selebihnya bekerja seperti pada umumnya, hidup suci menuju cita-cita Kehendak Tuhan untuk mewujudkan Surga Eden yang penuh damai di bumi.

“…Beranilah bersuci diri, beranilah melakukan pengakuan dosa dengan tulus kepada Tuhan dan beranilah melakukan penebusan karma-karma dosa…” (Teologi untuk Pancasila Jilid I, “Wahyu Tuhan Terkait dengan Asas Hukum Tuhan tentang Perlindungan-Nya kepada utusan-Nya”).

…Karena itulah yang pertama perlu dilakukan adalah membuat komitmen bersedia disucikan Tuhan demi diterima di Surga. Komitmen itu wajib disertai sumpah agar bisa tahan uji. Dan kalau itu sudah disepakati secara bersungguh-sungguh, maka harus diyakini Pensucian Tuhan atas diri Anda akan terselenggarakan oleh semesta. Lho kok sejauh itu hubungannya? Itu karena segala emosi dan kesadaran dapat terdeteksi oleh ruh sumpah Surga yang sudah terikat dengan ruh Sumpah Hakiki Semesta…” (Teologi untuk Pancasila Jilid I, “Ketuhanan Yang Maha Esa Dimutlakkan melalui Eskatologi Surga”)