• Contact Us

Komunitas Eden

~ Eden the Heaven

Komunitas Eden

Monthly Archives: October 2015

Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [8]

10 Saturday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Ruang Penyelarasan

≈ Comments Off on Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [8]

Ekstreemitas Pasca Liminal Pensucian Komunitas Eden

Kunci dari segala kunci dari sistem kepercayaan yang dibangun oleh komunitas eden, adalah kepercayaannya pada Lia Aminuddin, sebagai aktor sentral. Pemegang otoritas keberagamaannya, dengan menggunakan simbol kesemestaan, seperti pendamping malikat Jibril, klaim atas wahyu tuhan, bergelar ratu di kerajaan eden dan ruhul kudus.

Para anggota komunitas selama ini menempatkan diri sebagai murid yang setia pada gurunya, dan guru itu adalah ”malaikat Jibril”, dan malaikat itu adalah otoritas kewahyuan, dan kewahyuan itu adalah apa kata Lia baik sadar maupun tidak sadar (lihat: Sumardiono, The Loving You, Jakarta: Ys. Salamullah, 2003, hlm. 82)

Melakukan penyucian dipandang sebagai bagian sangat penting dari pengajaran itu. Mereka pun taat dan jalani perintah itu. Berbagai cara ditempuh, berbagai larangan dijauhi. Petunjuk-petunjuk dari malaikat jibril kadang menyusahkan, dan kadang menyenangkan, demikian pengakuan mereka (Penjelasan Abdul Rachman, dalam halaqah uci, 4 Desember 2004 di Tebet Jakarta Selatan ) .Namun itulah Eden, mereka yang selalu memelihara ritualitas penyucian, dan memahami arti pentingnya penyucian itu. Lia diyakini sebagai pengejawantah ruhul kudus dan Abdul Rachman sebagai Imam Mahdi. Para anggota komunitas Eden seakan menjadi petualang spiritual, dalam arti mencari kepuasan bathin yang intens, melalui hubungan emosional (emotional connectedness) dengan Tuhan. Jalan utama yang ditempuh adalah melalui
Proses ritual penyucian sebagai pergerakan peralihan, Oleh Victor Turner disebut sebagai yang melewati 3 fase, yaitu pemisahan (separation), ambang batas (margin, liminality) dan penyatuan kembali (reaggregation). Fase “pemisahan” terdiri dari perilaku simbolik yang memiliki arti pemisahan individu atau kelompok baik dari titik ajek dalam struktur sosial terdahulu, dari seperangkat kondisi (‘keadaan’) budaya, atau dari keduanya. Fase “ambang batas” menandai kondisi subjek ritual dalam keadaan ambigu; subjek ritual melalui suatu ranah budaya yang hanya memiliki sedikit atau tidak sama sekali karakter atau sifat-sifat dari keadaan masa lalu atau yang akan datang. Fase “penyatuan kembali” menandai berakhirnya situasi “liminal” atau “transisional” yang dialami oleh subjek ritual, baik individu maupun kelompok. Subjek ritual berada dalam keadaan yang relatif ajeg atau stabil. Victor W. Turner, The Ritual Process, ( United Kingdom: Aldine Publishing Company, 1969 , pg. 81-83.)

Prosesi Ritual pensucian di eden yang menjadi ambang batas (liminal) adalah saat seseorang: mengakui dosa-dosanya, kemudian berjanji tidak akan berbuat dosa sekecil apapun lagi. Dalam prosesi ini Lia yang dipercaya seabagi ruhul kudus menjadi saksi utama, dan berhak mengakui keabsyahan yang bersangkutan atas prosesi tersebut.

Rangakaian upacara pertaubatan seperti itu pada dasarnya juga ada pada setiap agama. Seperti pada upacara Sakramen atau Baptis di kalangan penganut Kristen, atau Moksa dalam agama Hindu. Di dalam agama Islam, demikian juga, yang biasa ditempuh kaum sufi dengan jalan Tariqat,

Namun prosesi penyucian pada kaum Eden, tampaknya merupakan cara baru dalam sistem yang biasa dilalui agama-agama yang ada selama ini. Situasi di mana sang pelaku pertaubatan dalam proses ritual, tidak terikat oleh struktur yang selama ini mengikat. Namun secara doktrinal, ia terikat oleh komitmen yang sangat dalam kepada petunjuk sang pimpinan komunitas. Langkah demi langkah, ucapan demi ucapan, dijalankan atas petunjuk sang pimpinan. Meski ketertundukan pada pimpinan itu, dibungkus oleh keyakinan sebagai individu yang ingin merubah diri secara moral, namun cara keprasahan kepada Tuhannya tetap mengikuti petunjuk sang pimpinan komunitas.

Penyiapan ruangan secara khusus, di rumah Jl. Mahoni 30 Jakarta Pusat, mengesankan bahwa, tidak ada tempat lain yang dianggap layak menjadi ”tempat pertaubatan”. Demikian juga perangkat upacara yang dihadirkaan pada ruangan tersebut, menjadi simbol yang pada akhirnya mengantarkan pada penguatan sistem menuju pada penciptaan struktur baru yang diciptakan oleh sang pimpinan. Pelita-pelita di ruangan, bunga-bungaan, iringan musik, altar putih, seragam pakaian ”lenan”- serba putih, semua itu ada maknanya sendiri-sendiri, yang merepresentasikan aroma kesucian dan dibahasakan sebagai simbol ketaatan.

Masalah adalah: Bahwa ritual pensucian telah dimaknai sebagai Pembaitan, saat di mana seseorang yang tersucikan mempertaruhkan jiwa raganya untuk tunduk dan patuh hanya kepada tuhan-nya. Situasi pasca liminal yang dialami oleh yang disucikan bisa diuraikan sbb.:
1) Ketaatan kepada tuhan adalah ketaatan pada apapun yang diajarkan oleh Lia. Semua perintah dari kitab suci apapun, selama tidak sesuai dengan ajaran Lia sang ruhul kudus, harus ditolak.
2) Amalan agama eden, hanya berkisar soal pentingnya pensucian, dengan segala cabangnya. Mereka tidak lagi ada perintah beramal saleh, kepedulian sosial, dan sebagainya, dan tidak ada lagi kepercayaan memperoleh balasan di akhirat.
3) Mereka yang tersucikan harus pindah agama. Karena sebagian besar pengikut Lia adalah berasal dari peganut Islam, maka mereka harus keluar dari Islam
4) Dosa yang dimaksud ”harus dihindari” adalah segala perbuatan yang dilarang oleh Lia sang ruhul kudus, dan bukan dosa yang dilarang menurut kitab suci seperti Al Qur’an.
5) Tempat yang diyakini sebagai surga dalam arti yang sebenarnya adalah rumah Eden yang beralamat Jl. Mahoni 30 Kal. Bungur Kec. Senen. Menolak mempercayai keberadaan surga tersebut, sama saja dengan ”menentang kehendak tuhan”.
6) Kepentingan tuhan yang harus dilayani adalah segala macam urusan yang berhubungan dengan kegiatan di rumah surga eden tersebut. Apabila terjadi konflik keluarga dengan kepentingan eden, harus didahulukan ”kepentingan tuhan” dan bukan kepentingan keluarga. Dari sinilah sumbernya konflik, dan bahkan berakhir dengan perceraian antara suami isteri, termasuk memisahkan diri dengan orang tua.

Ada yang perlu dicatat bahwa, unsur yang terambil dari ritual pertaubatan, sejak awal adalah dari Islam. Ini dimungkinkan, karena hampir seluruh pengikunya beragama Islam. Beberapa prinsip yang diambil dari tradisi Islam itu, adalah: (1) didahului dengan pengakuan dosa, dilanjutkan dengan (2) bersumpah demi Tuhan untuk tidak mengulangi dosa lagi. Kedua prinsip itu pada dasarnya adalah ajaran Islam, yang dituntunkan kepada manusia untuk menjalankan apa yang disebut taubat nasuha. Namun dalam prosesi pensucian telah terjadi ekstreemitas dalam tindakan. Dengan mengatasnamakan kehendak Allah. Kehendak Allah telah terkamuflase oleh kehendak Lia yang memposisikan sebagai ruhul kudus. Dengan posisinya itu, ia menyatakan berhak untuk memberikan pengesyahan diterima atau ditolaknya pertaubatan. Ekstreemitas juga ditunjukkan dalam masalah pembakaran. Meski tindakan itu dikatakan sebagai symbol pemusnahan nafsu iblis, tetapi pembakaran pada bagian-bagian fisik tubuh seseorang, dapat berarti sebuah kekerasan.

Sistem kerpercayaan, di mana ritual ada di dalamnya, yang dianut komunitas eden adalah sebuah konsep manusia tentang semua hal yang terkandung dalam kosmosologi, kosmogoni dan eskatologi serta aktivitas-aktivitas berkenaan dengan pemantapan keyakinan-keyakinan dan memperkuat solidaritas di antara anggota komunitas penganutnya. Konsepsi itu juga dibangun untuk mengembangkan identitas, membangun emosionalitas individu dan kelompok, mempertahankan diri, serta membangun koneksitas dengan komunitas lain.

Proses ritual yang oleh Arnold van Gennep disebut sebagai rites de passage (rites of passage), sebagai “ritus-ritus yang menyertai setiap perubahan tempat, keadaan, posisi sosial dan usia”, telah benar-benar mengawal ritual pensucian di eden.

Telah terjadi penyimpangan luar biasa pada komunitas Eden, sedemikian rupa, karena liminalitas pensucian itu telah membawa sistem ketaatan baru dengan penegasan menghapus agama Islam. Praktek keagamaannya cenderung menodai keyakinan agama lain, mencerca pemerintah, meretakkan hubunan keluarga, mengundang konflik sosial, dan sebagainya (lihat a.l.: Marzani Anwar dalam ”kompasioana.com ”Pembohongan publik cara eden, bagian 1-4). Tindakan pasca liminal juga diikuti dengan keyakinan-keyainan baru yang melecehkan kitab suci Al Qur’an, mengesyahkan perkawinan secara di luar ketentuan agama, menempatkan orang-orang yang tidak percaya pada ajaran eden sebagai golongan yang memperoleh laknat tuhan.

Dalam struktur sosial konteks ke-edenan, Lia dengan jabatannya sebagai ruhul kudus, menempati posisi suprastruktur di dalam majelis maupun di luar majelis. Abdul Rachman, yang dipercaya sebagai imam mahdi, menempati level struktur tengah (midle structure), yang berfungsi sebagai perantara antara kuasa tertinggi dengan yang dikuasai. Sementara mereka yang tersucikan menempati jabatan baru sebagai ”rasul”, yang ditugasi untuk menyebarluaskan ajaran eden.

Dalam koteks ini pula, eden tidak lagi menyebut Tuhan sebagai Allah, dan berindikasi kuat bahwa Lia sendiri menjadi representasi Tuhan. Karena setiap ucapan yang diklaim sebagai ”sumpah-sumpah Tuhan” adalah ungkapan yang keluar dari mulut Lia sendiri. Kedudukan Muhammad sebagai Rasulullah (dalam Islam) dia ganti dengan poisi Abdul Rachman, yang diklaim sebagai reinkarsi sang rasul tersebut. Sampai kepada fungsi kerasulannya pun tergantikan oleh Rahman dan dibantu oleh kawan-kawannya sesama anggota eden.

Ritual pensucian di Eden tampaknya merupakan simplifikasi konsepsi pensucian agama-agama besar di dunia. Karena mengharuskan pensucian masuk ke ruangan tertentu di rumah Jl. Mahoni 30, padahal perbuatan dosa manusia ada di ruang public. Maka pertaubatan itu semestinya ada di ruang publik pula. Misalnya, pertaubatan karena dosa seorang penguasa Negara, harus direfleksikan dalam bentuk memperbaiki kesalahan dalam mengelola pemerintahan. Artinya, bahwa pertaubatan karena dosa struktural harus di”selesaikan” melalui jalan struktural; pertaubatan karena dosa social, harus di”selesaikan” melalui jalan social, dan pertaubatan karena dosa sebagai individu, harus di”selesaikan” secara individual, dan seterusnya. Bahwa kemudian, ia juga harus menyatakan dosa-dosanya dan bersumpah untuk tidak mengulanginya lagi, adalah persoalan “teknis pertaubatan”.

Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [7]

10 Saturday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Ruang Penyelarasan

≈ Comments Off on Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [7]

Nubuatan Eden Sebagai Pembohongan Publik (Bag.4)

04 September 2015

Marzani Anwar

Nubuatan adalah ramalan yang sampaikan oleh seorng rasul. Termasuk informasi akan terjadinya suatu kejadian sebelum terjadinya. Orang yang mengetahui sesuatu sebelum ada kejadian iu, dalam istilah sipiritual kehidupan orang Jawa disebut ”ngerti sadurunge winarah” (mengetahui sebelum kejadian).

Istilah yang dekat dengan ”nubuatan” adalah ramalan atau jangka. Kalau di masyarakat Jawa dikenal dengan idiom ”ramalan/ jangka Jayabaya”, maksudnya adalah segala perkataan atau ungkapan sang pujangga Jayabaya mengenai berbagai hal yang akan terjadi di kemudian hari di wilayah tanah Jawa. Demikian juga yang dikenal dengan Ramalan Ki Ranggawarsito atau ramalan-ramalan lainnya dari para pujangga.

Lia Aminuddin, yang di komunitasnya biasa dipanggil Paduka Yang Mulia Ruhul Kudus, dipercayai memiliki kelebihan berupa pengetahuan mengenaai segala sesuatu sebelum kejadian. Informasi atau ramalan itu, kemudian mempengaruhi pola tindakan dan kebijakan komunitas Eden, dalam hidup kekiniannya. Ramalan-ramalan itu menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti persoalan yang bersifat teologis, kehidupan politik, perkembangan ilmu pengetahuan dan lainnya.

Politik bangsa ternyata menjadi perhatian penting dalam nubuwatan Eden, menyangkut nasib kehidupan berbangsa dan bernegara. Eden membuat ramalan-ramalan itu sebagai penguat ajaran kerasulannya, agar dengan melihat bukti-bukti dari apa yang telah diramalkan tersebut akan memperkuat bukti kerasulan Lia Eden . Dalam konteks penyucian, apa yang diramalkan itu adalah pemberitahuan mengenai sesuatu yang akan terjadi sebagai “pelajaran” bagi manusia yang menentang missi kerasulan.

Ranah nubuwah ditujukan kepada kepemimpinan bangsa, kelompok manusia. Dalam hal ini, adalah para peimpin yang “tidak mengindahkan” ajakan Eden, atau kelompok masyarakat yang tidak peduli pada seruan-seruan Eden. Termasuk seruan untuk menyucikan diri seperti ditempuh Eden.

Berita akan datangnya UFO di Monas untuk menjemput para pengikut Eden beberapa waktu yang lalu (akhir Mei 2015), yang ternyata tidak terjadi apa-apa, hanyalah salah satu pemberitaan yang dikeluarkan eden terakhir. Jauh dari itu, eden telah banyak mengumbar nubuah murahannya, melalui milis yang dimilikinya.

Nubuatan tentang Banjir di Jakarta.

Kejadiannya adalah tahun 1998. Eden mengabarkan akan ada banjir besar melanda Jakarta. Sungai di tengah kota akan meluap, karena hujan turun tiada berhenti. Rumah-rumah akan tenggelam. Akan banyak korban, karena tidak bisa menyelamatkan diri. Jalan-jalan dan prasrana lain banyak mengalami kerusakan.

Musibah yang akan terjadi pada bulan Agustus 1998 itu digambarkan sedemikian rupa oleh Lia Aminuddin, dan semua murid-muridnya mempercayai sepenuhnya. Untuk mengantasipasi kejadian itu, para anggota jamaahnya mengungsi ke sebuah vila di Cisarua. Barang-barang berharga diangkut bersama orang-orangnya. Namun berita itu tinggal berita, karena pada saat yang diramalkan itu tidak terjadi apa-apa.

Terbunuhnyan sang Presiden.

Sebagai akibat dari ketidakpedulian pemimpin bangsa memenuhi ajakan Eden untuk percaya pada missi kerasulannya, muncul nubuatan yang menggambarkan buruknya nasib pemerintahan. Nubuatan itu menyebutkan waktu terjadinya, yakni antara tahun 2003-2004. ”Suatu hari nanti”, katanya, ”pejabat pemerintah yang tak suka disumpah di hadapan Tuhan dan Ruhul Kudus terpaksa harus menghadapi cobaan-cobaan yang meruntuhkan dia dari jabatannya. Sementara, yang telah rela mengikuti persyaratan Tuhan akan sejahtera dan bermaslahat, dicintai masyarakat, menjadi pendamai dan pembawa rahmat Tuhan, bertulah dan bertuah”.

Saat itu presiden R.I. masih dijabat oleh Megawati (tahun 2003), Lia eden melanjutkan ramalannya mengenai kondisi politik yang akan terjadi. Kerusuhan merajalela dan akan mengantarkannya pada pergantian kekuasaan, dan sang presiden yang sedang berkuasa disebut-sebut akan binasa. Megawati dinubuahkan akan menemui ajalnya. Dalam kesempatan yang lain dinyatakan bahwa, Pemilu yang diadakan pada tahun 2004 akan gagal. Dalam nubuwatan itu, Lia Eden sampai menegaskan kembali, ”kamu harus percaya bahwa Pemilu akan gagal’. Masih dalam tahun yang sama, yakni disebutkan pada bulan keempat tahun 2004, Lia Eden menggambarkan akan terjadi banjir darah di Jakarta. Sebagai dampak kegagalan Pemilu, sehingga terjadi kekacauan di mana-mana. Kerusuhan antar kelompok dan antar Parpol merajalela. Dan atas dasar ramalannya, itu maka orang-orang Eden akan menjadi tumpuan masyarakat, atau menjadi pelindung masyarakat.

Peristiwa-peristiwa politik yang sedemikian dasyat sebagaimana dinubuahkan tersebut, ternyata tidak menjadi kenyataan. Presiden Megawati tetap memimpin pemerintahan sampai berakhir masa tugasnya. Pemilu yang digelar, berjalan dengan aman, tidak terjadi gangguan yang berarti. Sepanjang tahun 2004, tidak terjadi huru-hara yang berarti, di masyarakat.

Janji-janji ”akan memperoleh keselamatan”, apabila bangsa ini mengikuti petunjuk eden”, diulang-ulang dalam berbagai kesempatan. Artinya, bahwa eden mengajak berspekulasi, dengan menempatkan dirinya sebagai ”juru selamat”. Sementara Eden sendiri dalam pengalamannya, selama lebih dari sepuluh tahun menyampaikan risalah-risalahnya, tidak pernah bisa membuktikan terjadinya apa yang diramalkan terhadap kelangsungan bangsa ini.

Jakarta Menjadi Pusat Spiritual Dunia

DKI Jakarta, tidak hanya dikenal sebagai Ibukota Negara R.I., tetapi akan menjadi tempat kunjungan semacam wisata rohani. Begitulah nubuwatan Lia Eden. Pernyataan itu antara lain menyebutkan sbb.:

Adapun kota besar Jakarta ini belum dikenali oleh para pencatat nubuah ini. Belum terlihat negeri Indonesia yang makmur sentosa yang mempunyai ibukota yang megah. Di sinilah nanti pusat spiritual dunia yang dipimpin oleh kami (Lia Eden-pen.), sebagaimana Bunda Suci sudah dinobatkan Tuhan sebagai Ratu Adil di Kerajaan-Nya. Penunjukan yang syah langsung dari Tuhan. Dan dinobatkan dengan nama Syah Ratu Syamsuriati Lia Eden.

Sejak ”hari penobatan” Lia sebagai ratu adil tersebut, di Jakarta tidak ada tanda-tanda akan menjadi pusat spiritual dunia. Apalagi pusat spiritual yang hendak dipimpin Lia Eden. Terhadap Lia justru telah terjadi penistaan oleh massa yang tidak suka. Tuntutan dari mereka yang tidak suka, dengan tuduhan penodaan agama, telah mengantarkannya ke pesakitan, menjadi narapidana. Fakta itu hanya untuk menunjukkan, betapa Lia eden, tidak mendapatkan sambutan positif, yang hendak mengusung jenjang ke kepemimpinan spiritual dunia.

PBB akan ”turun tangan” membela Eden.

Ada persambungannya dengan nubuwatan mengenai kota Jakarta yang akan menjadi pusat spiritual dunia. Ada sikap percaya diri pada komunitas Eden, juga ditunjukkan dengan pernyataannya bahwa, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) akan menyampaikan keprihatinannya, karena pemerintah RI menolak keberadaan ’Istana Kerajaan Tuhan” di Indonesia. Eden merasa bahwa keberadaan kerajaan Tuhan itu adalah ketetapan Tuhan, dan akan memperoleh perlindungan dari Tuhan.

Berkenaan dengan protes-protes penolakan fatwa-fatwanya, Eden mempersiapkan segala hal yang dimungkinkan terjadi atas eden, karena pernyataannya itu, menurut perkiraan Eden sendiri, tak mungkin tak menuai prahara besar. Sementara, Lia eden mengaku tak mungkin mengurungkan semua fatwa-fatwanya, seberapa pun besarnya protes dan penolakan atasnya. Dan Eden memastikan bahwa fatwa-fatwanya akan memperbaiki keadaan dunia: ”institusi keagamaan dunia dan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) akan menyesalkan Pemerintah Indonesia, yang canggung dan sejak lama mendiamkan saja Maklumat Fatwa-Ku itu. Padahal fatwa tersebut sudah Kusampaikan pada persidangan Lia Eden di depan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, pada 23 Juni 2006, yang diketuai oleh Hakim Lief Sofijullah.

Begitu besarnya keyakinan akan kebesarannya, sehingga PBB pun dinubuwahkan untuk turun tangan membela Eden. Pernyataan itu, dibuat pada bulan november 2008. Dan sampai tahun 2010 akhir, tidak ada tanda-tanda PBB menyampaikan rasa penyesalan atas ketidakpedulian pemerintah RI untuk menerima fatwa-fatwa Eden. Tidak juga memberikan perhatian pada komunitas Eden di Indonesia.

Rumah tinggal Jl. Mahoni 30 menjadi Kiblat semua agama

Dalam deklarasi eden di media sosial, dijelaskan bahwa pusat peribadatan Eden, yang awalnya adalah rumah pribadi Lia Aminuddin, beralamat di Jl. Mahoni 30 Jakarta Pusat, adalah merupakan Kerajaan Tuhan. Lia sebagai Ratu di kerajaan ini, menubuatkan sbb.:” Takkan pernah urung kita mendirikan Kerajaan Surga di Negeri Indonesia ini. Kerajaan Surga tak berbekal tanah dan kerajaan. Hanya di sebuah tempat tinggal yang dipilih Tuhan. Menjadilah kewajibanku menegakkan Kerajaan Surga di Indonesia. Seperti Vatikan di negara Italia. Hanya saja surga Eden itu terfungsikan sebagai kiblat semua agama-agama dan menjadi pusat penyucian ruh. Letaknya sudah pasti di sini, di jalan Mahoni 30 Jakarta. Kami memulai segalanya dari sini.

Demikianlah Lia Eden atas nama Jibril ruhul kudus, memberitahu kepada dunia, bahwa rumah tinggalnya, yang ditetapkan sebagai Kerajaan Tuhan, pada waktunya akan menjadi kiblat semua agama-agama. Para pemuka agama, di seluruh dunia akan menghormati Lia, sebagai tokoh spiritual yang patut dihormati. Umat para penganut agama-agama juga akan hormat padanya, sebagai ”Ratu Kerajaan Tuhan”. Pesan-pesannya akan dijadikan pedoman untuk tindakan mendamaikan semua agama. Demikian nubuah eden

Namun apa yang terjadi, sampai tujuh tahun dari pernyataan nubuatan tersebut, tidak ada tanda-tanda ke arah adanya penghormatan para pemuka agama-agama terhadap Lia khususnya. Tidak juga ada tanda-tanda bahwa rumah di Jl. Mahoni 30, menjadi pusat kiblatnya agama-agama.

Para artis akan terserang penyakit kudisan, dan tidak akan tersembuhkan

Nubuah Lia Eden merambah pada kalangan artis ibukota, yang dalam pandangannya, mereka adalah orang-orang yang terjauhkan dari surga Eden. Karena pebuatannya yang banyak kemaksiatan, mereka akan mendapatkan balasan langsung dari Tuhan. ” Waspadalah”, katanya, ”akan datang penyakit kulit buduk ganas yang akan menghapus kecantikan seketika. Wanita-wanita yang suka membuka auratnya, dan dengan sengaja merangsang pria sehingga kemaksiatan itu merajalela, terancam buruk rupa karena penyakit kulit ganas itu. Penyakit-penyakit kista, tumor dan kanker payudara dan rahim adalah hukuman terhadap perempuan-perempuan yang bergaul bebas.

Terlepas pro-kontra terhadap kemaksiatan yang dialamatkan kepada para artis, apa yang dinubuatkan Lia mengenai keadaan buruk tersebut, ternyata tidak terbukti. Sampai dengan tahun 2010, sejak ramalan itu ditulis (2003), tidak terjadi apa-apa di kalangan para artis. Kalaupun ada satu dua artis yang jatuh sakit, tidak lebih dari fenomena sosial yang biasa. Manusia ada yang sakit ada yang sehat. Sedangkan hal yang dinubuahkan sewajarnya berlaku untuk semua, kalau benar sebagai bukti penghakiman-Nya.

Kebutaan akan melanda bangsa Indonesia.

Eden dengan mengatasnamakan ruhul kudus, menjadikan mukjizat Allah kepada Bangsa Indonesia, yang dikabarkan akan mendapat nasib buruk berupa kebutaan. Tepatnya pada tanggal 24 Januari 2002, yang disebut-sebut sebagai “nasib buruk” umat manusia. Kebutaan mata dalam arti yang sebenarnya, sebagai akibat tidak mau melihat kebenaran, yang dibawakan Eden. Menurutnya, apa yang dibawakan Eden adalah kebenaran dari Tuhan. Begini penegasannya: “ Hari ini tanggal 24 Januari 2002, kukabarkan kepada umat manusia bahwa jikalau kamu memperjuangkan perdamaian amanat Tuhan, kujadikan minyak tanah yang dipertemukan dengan minyak zaitun akan menjadi obat mata yang termanjur. Obat mata yang dapat membuat terang matamu dan akan menjadikan mata buta dapat melihat. Akulah pendamai yang membawa terang. Terang matamu, terang hatimu, terang pikiranmu. Aku-lah Tuhan yang cinta damai, maka Aku menghargai doa para pemuka agama-agama sedunia yang diprakarsai oleh Kepausan Vatikan di Assisi, Italia. Maka kaudapati minyak sebagai mukjizat terang itu sebagai jawaban-Ku”. Dikatakan selanjutnya: ”Jadikanlah mukjizat-Ku ini sebagai pertolongan-Ku bagi umat manusia pecinta damai. Katakanlah, jangan menyimpan mukjizat-Ku ini menjadi hampa. Telah Kuberikan berkah mukjizat minyak terang ini sebagai perimbangan atas murka-Ku. Seluruh umat di dunia dapat memperolehnya bilamana kamu menyalakan pelita demi perdamaian. Sungguh akan ada wabah berbagai penyakit di antaranya wabah penyakit radang mata yang berat. Olesi minyak mukjizat-Ku itu kepada matamu. Itulah obat yang termujarab.

Begitu yakinnya atas ramalan itu, kaum eden di Jl. Mahoni 30 itu telah benar membuat cairan yang dibuat dari minyak tanah dicampur dengan minyak zaetun. Dituang dalam 5 (lima) bejana masing-masing berukuran 40 x 30 cm. Cairan itu dipersiapkan untuk melayani banyak orang, yang konon akan datang berduyun-duyun ke eden untuk mengobati matanya. Eden mengantisipasi datangnya bencana dari Tuhan, sebagaimana dinubuwahkan tersebut.

Keadaan buta mata itu ternyata tidak hanya diartikan secara artivisial, tetapi juga dalam arti fisik. Orang-orang yang mengalami kebutaan itu hanya bisa disembuhkan manakala mau datang ke Eden, dan di sana akan diusap dengan cairan tersebut, dan atas kehendak Tuhan, maka mata buta akan kembali melihat seperti sediakala.

Kaum di samping menyiapkan cairan yang terbuat dari campuran minyak tanah dengan minyak zaetun itu, adalah juga siap memberikan jasa penyembuhan. Mereka percaya betul akan nubuah itu, dan merajalelanya penyakit-penyakit berat akan menimpa umat manusia.

Penyembuhan cara Eden, dengan memanfaatkan cairan tersebut, adalah bagian ketaatan atas perintah snag ruhul kudus. Ketersemuhan para pasien adalah akan menjadi bukti kebenaran kedatangan ruhul kudus. Demikian keyakinan mereka.

Namun sampai sekarang (tahun 2015) bencana kebutaan itu, tidak pernah terjadi. Cairan yang dianggap mujarab itu tidak terpakai sama sekali. Tidak ada pasien berduyun-duyun mendatangi Eden, untuk minta kesembuhannya.

Sungguhpun begitu, tidak ada anggota komunitas Eden, yang bereaksi, dengan meragukan kebenaran kedatangan ruhul kudus. Pembenaran atas ketidakbenaran nubuah itu, selalu saja ada, berupa penjelasan yang juga diatasnamakan malaikat Jibril.Entah yang namanya, ujian ketaatan, ujian kerasulan lah, menempa diri agar terbiasa dipermalukan, dsn sebagainya.

Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [6]

10 Saturday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Ruang Penyelarasan

≈ Comments Off on Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [6]

Para Pendosa dalam Pandangan Eden

02 September 2015

Komunitas eden adalah sebuah kelompok keagamaan yang embriyonya adalah Islam, yaitu sebuah kelompok pengajian bernama salamullah. Dalam rentang waktu sejak lahirnya (tahun 1997an) hingga sekarang, mengalami pekembangan demikian pesat. Perubahan tidak hanya pada nama dan keanggotaan, tetapi terlebih penting adalah pada sistem keyakinannya. Mendeklar penghapusan Islam, bahkan menghapus semua agama, merupakan momentum spektakuler yang beresiko penentangan oleh para penganut semua agama di Indonesia. Namun bagaimanapun ia tidak lebih dari sebuah Sekte, yang mencoba berdiri di luar agama agama. Mereka membangun sistem kepercayaan sendiri, dan keluar dari agama semula. Walau dalam kenyataannya masih menggunakan seabreg ayat-ayat kitab suci untuk pembenaran (justifikasi) atas risalah-risalahnya.Pandangan tentang “dosa” berikut akibat-akiatnya, adalah bagian penting dalam sistem keyakinan yang mereka bangun. Orang yang dianggap “berdosa kepada tuhan” kebanyakan terfokus kepada perbuatan yang menyangkut kepentingan dirinya atau kelompoknya. Misalnya, seseorang yang karena tidak mengikuti majelis sapaan (pengaajian) pada hari tertentu, oleh Lia sang pemimpin Eden, dianggap berdosa kepada tuhan. Kekuasaan tuhan dan kekuasaan Lia, seakan tipis saja bedanya.Lia membebankan kepada orang suatu dosa hanya mendasarkan apa yang dia perbuat untuk eden. Seakan tidak ada kesalehan di luar Eden. Tidak ada kebaikan yang berakibat pahala atas kebaikannya, selagi dia tidak menerima kerasulan Lia.Perbuatan buruk yang dianggap melawan kehendak Tuhan, tidak selalu berdasar ajaran agama dan kitab-kitab suci. Tetapi juga diukur, bagaimana ia dan atau kelompoknya diperlakukan orang lain. Apabila perintah Lia tidak diindahkan, yang bersangkutan dianggap melawan kehendak tuhan, dan kepadanya ia akan memeroleh balasan dari tuhan. Dalam membangun sistem keyakinannya, tuhan selalu memihak dirinya. Kalau ia disakiti orang lain, itu berarti orang tersebut sedang menyakiti tuhan. Kalau orang lain berbaik hati kepada dirinya, berarti orang tersebut berbuat baik kepada tuhan. Efek dari perbuatan “dosa kepada tuhan” adalah berupa hukuman di atas dunia ini.Dalam sistem keyakinan eden, tidak pernah bicara tentang balasan di akherat atas dosa manusia. Demikian juga atas kebaikannya. Dalam keyakinannya, kehidupan setelah mati, adalah apa yang disebut reinkarnasi. Yaitu perjalanan ruh yang akan menyosok pada diri makhluk yang lain, entah manusia, binatang, jin, malaikat, dst. Perwujudan ulang )reinkarnasi) bisa baik bisa buu, trgantung perbuatan sewaktu di dunia ini.Maka balasan atas ”dosanya kepada tuhan” itu, dalam konsep eden, paling banyak adalah membayar denda kepada Eden atau Lia selaku Ruhul Kudus. Pembayaranna pun dilakukan sewaktu di dunia ini. Lia dalam soal balas membalas perbuatan manusia, khusunya para pengikutnya, bertindak atasnama tuhan dalam. Bentuk hukuman atas kesalahan pegikutnya biasanya berupa denda uang. Tidak pernah Lia sang Ruhul Kudus memerintahkan membayar denda dalam bentuk bantuan kepada fakir miskin, misalnya, seperti ajaran zakat atau fidyah seperti dalam agama Islam Tidak juga membayar dalam bentuk amalan sosial lainnya. Tidak juga peduli, apakah yang bersangkutan telah membayarnya dalam bentuk lain dan untuk kepentingan yang lebih maslahat. Kalaupun harus bertobat atas dosanya, pertobatan itu harus dilakukan di hadapan majelis, yang langsung dipimpin Lia sendiri. Namun pertobatan tetap harus diisempurnakan dengan membayar denda.Untuk membebaskan dari dosanya, para pendosa diharuskan membayar yang besarannya ditentukan oleh Lia. Dia mengatasnamakan Tuhan untuk menghukum orang-orang seperti itu, dengan caranya sendiri. Tindakan menghukum dengan denda uang itu sudah sering dilakukan. Satya Nugraha, seorang mantan pengikut Eden, pernah berkomentar, bahwa Bunda Lia itu kerjanya ”jualan tuhan” dan ”jualan malaikat”. Karena banyak sekali kepentingan di dalam organisasi eden ”diselesaikan” melalui denda-denda seperti itu. Dan uang-uang dari denda itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari komunitasnya. Para pengikut yang membayar denda pun mengikhlaskan diri atas pembayarannya itu, dengan dalih “untuk kepentingan tuhan”.Pendedaan atas dosa biasanya bernada mengancam: akan mendapat tulah apabila tidak bersedia membayarnya. Denda-denda yang harus dibayarkan itu, di samping uang, kadang berupa peralatan dapur, perabot rumah tangga, peralatan musik, sound system, binatang piaraan, rumah, dan sebagainya.Maka tidak sedikit para anggotanya yang keluar dari komunitas tersebut, setelah hartanya habis-habisan untuk kepentingan eden. Keluarganya morat-marit gara-gara pendapatannya tidak lagi mencukupi kepentingan keluarganya. Meski diakui, ada saja yang masuk menjadi anggota baru

Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [5]

10 Saturday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Ruang Penyelarasan

≈ Comments Off on Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [5]

Pembohongan Publik Cara Eden (Bag. 3)

31 Agustus 2015

Ada seseorang anak umur belasan tahun yang kebetulan putera dari seorang pengikut eden, mengalami kecelakaan motor. Anak ini pernah diikutkan oleh ibunya menjadi saksi pada saat pengadalan Lia Aminuddin, tahun 2006, kasus “penodaan agama”. Dalam kesaksiannya, dia mengaku pernah disuruh membakar bagian mulutnya, sebagai bagian dari ritual penyucian. Kesaksian itu telah dijadikan alat bukti oleh hakim, adanya tindak pelanggaran pidana terhadap anak di bawah umur. Kebetulan Galuh juga mengaku pernah membakar foto Lia Eden.

Dengan kesaksian anak tersebut oleh Lia Eden, dipandang sebagai tulah atau kutukan tuhan karena kesaksiannya yang merugikan Lia eden. Padahal kasus kecelakaan seperti yang dialami anak tersebut, pada dasarnya adalah kasus biasa, seperti yang dialami orang lain yang sewaktu-waktu bisa terkena musibah. Namun oleh Lia didramatisir menjadi seakan-akan ada hubungan “sebab-akibat”, antara persaksiannya di pengadilan Lia Eden yang memberatkan dakwaan terhadap Lia, dengan nasib buruknya itu.

Cara pandang terhadap kasus itu sendiri, merupakan contoh kecil, betapa seorang Lia eden telah menempatkan diri menjadi bayang-bayang kekuasaan Tuhan. Dia sangat memperhitungkan tindakan seorang anak manusia yang hanya karena dia menunjukkan kebenciaan pada dirinya, disamakan dengan perbuatan ”membenci Tuhan”nya.

Sementara keadaan yang sering terjadi pada orang lain yang juga menentang eden, tidak terjadi akibat apa-apa dalam beberapa tahun belakangan ini. Penentangan itu bahkan lebih berat, karena mengarah pada penghujatan dan penyerangan dengan kekerasan, sebagaimana terjadi pada Desember 2005. Mereka yang secara terang-terangan adalah seperti para pendemo yang meneriaki dan hendak mengusirnya di sekitar rumah eden, berikut para penenentang eden lainnya, yang tidak secara langsung hadir di sana. Permusuhan terhadap eden juga ditunjukkan melalui tulisan dan pernyataan melalui email ke alamat milis komunitas eden.com, media face book dan medsos lainnya. Ada juga penentangan dalam bentuk buku berjudul: Kesesatan Lia Eden dan Agama Salamullah, (2004), ditulis oleh H.M. Amin Djamaluddin. Pengasuh majalah Sabili pernah juga dikutuk oleh Lia Eden, karena mereka pernah tidak mempedulikan kedatangan Abdul Rachman ketika berkunjung ke kantornya untuk menyampaikan sebuah peringatan.

Sejauh ini, para penentang eden tersebut tidak mengalami “akibat buruk” apa-apa atas perlakuan dan penghujatannya itu. Mereka, tidak memperoleh “penghakiman”, sebagaimana diancamkan Lia sang ruhul kudus.

Sampailah surat ancaman yang ditujukan kepada Presiden RI (waktu itu masih SBY), yang berbunyi sebagai berikut: “Apabila surat kami ini sekali lagi tak dipedulikan (maksudnya: ajakan untuk mengakui kerajaan Eden-pen), maka murka tuhan pun akan semakin keras dan tak tertanggulangi, karena gunung-gunung akan meletus dan dimungkinkan akan terjadi lagi terjangan tsunami, banjir, puting beliung dan gempa akan lebih sering lagi terjadi daripada sebelumnya. Wabah penyakit akan semakin marak, kebakaran-kebakaran berlanjut menimpa, horor metafisis mencapai puncaknya, kerusuhan-kerusuhan memuncak menjadi kerusuhan global nasional. Pemerintah manapun takkan bertahan. Ditegaskan pula dalam pernyataan yang lain, bahwa: “Satu-satunya jalan agar segala bencana ini tersudahi adalah mengakui Kerajaan dan Surga yang telah diturunkan tuhan di negeri ini, semoga tuhan segera membukakan mata hati para pemimpin dan rakyatnya untuk berkhidmat kepada-nya dengan tulus dan ikhlas sehingga segera terwujud damai dan sejahtera di bumi Indonesia ini.

Dalih untuk membenarkan penghakimannya itu dicarikan pembenaraan dengan adanya kejadian alam dengan tindakan yang menimpa Eden, seakan ada hubungan sebab-akibat. Terjadinya bencana alam itu sendiri selama ini selalu dinyatakannya ”setelah” peristiwa itu terjadi, yang berarti hanya sebuah justifikasi atau klaim sepihak. Namun kemudian diletakkan dalam hukum sebab-akibat dengan ajakan penyucian melalui risalah-risalah Eden.

Bila Eden yang tertimpa bencana

Bagaimana kalau kejadian musibah itu menimpa eden, baik individu atau komunitasnya. Entah besar atau kecil, musibah itu hampir pasti terjadi, sebagaimana dialami pada kebanyakan manusia. Masalahnya, bagaimana dengan musibah yang menimpa diri eden.

Sebagaimana terjadi pada diri Lia Eden, yang pernah terpuruk masuk penjara setelah divonis Pengadilan atas tuduhan penodaan agama. Mereka tidak menganggapnya sebagai ”penghakiman tuhan” atau azab tuhan. Kejadian itu, menurut mereka adalah sebagai ”penggenapan” atas perjalanan hidupnya meniti takdir kerasulan. Pengakuan dosa Lia di dalam “Confession”, diklaim sebagai tanda perkenan tuhan atas kelayakannya membawakan pesannya yang berat mengenai penghakiman. Pemahamannya diserupakan dengan paham yang mnyertai peristiwa penyaliban Yesus, di mana peristiwa dipandang sebagai penebusan dosa. Demikian juga pemidaannya di lembaga pemasyarakatan selama beberapa tahun tersebut, diserupakan seperti pengorbanan Maria yang mengikhlaskan atas dosa semua umat, semua agama, dan semua bangsa. Peristiwa itu dipandangnya sebagai bagian dari penyucian, dan hingga dilayakkan tuhan menjadi hakim atas nama-nya, sebagai jalan menuju surga.

Pandangan yang hanya mencerminkan keegoannya. Dirinya selalu dipandang sebagai subyek moral, dan orang lain selalu disasar sebagai obyek atau pelengkap penderita. Anak belasan tahun pun bisa menertawakan, kalau peminadanaan itu dianggap suatu “penggenapan” kenapa di persidangan menggandeng pengacara, dan para saksi yang meringankan

Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [4]

10 Saturday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Ruang Penyelarasan

≈ Comments Off on Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [4]

Pembohongan Publik Cara Eden (Bagian 2)

27 Agustus 2015  

Dalam komunitas eden, teryakini bahwa hanya kelompoknyalah pembawa kebenaran, dan berhak masuk surga. Sementara kelompok di luar eden adalah tidak dalam kebenaran, dan menjadi umat terkutuk. Eden meyakini, bahwa saat ini telah datang rasul tuhan. Bertugas membawa risalah untuk umat manusia. Rasul itu adalah malaikat Jibril, yang kini mengejawantah pada diri Lia. Jibril menjadi rasul tuhan, karena rasul itu menurut mereka, berarti “pembawa amanat tuhan”.

Dalam maklumatnya tertanggal 16 Juni tahun 2000 dinyatakan: ”telah tiba waktunya Malaikat Jibril turun kembali untuk menyapa dan menuntun umat manusia agar kembali mengesakan Allah, mengkuduskan kembali seluruh ajaran-Nya, serta menghentikan segala bentuk kekerasan dan peperangan. Dia (Jibril) menyapa seluruh kaum yang beriman dari agama dan kepercayaan apapun karena pada hakikatnya dia adalah cahaya dan sinar yang menerangi alam semesta. Dia membagikan cahayanya secara adil dan merata kepada siapa saja dari hamba-hamba Tuhan yang senantiasa mensucikan diri dan membuka hatinya terhadap kebenaran”. Sampai di sini mungkin tidak terlalu mengundang kontroversi. Namun perhatikan apa kata Lia eden berikutnya.

Salah satu ungkapan sebuah surat yang ditulis Lia eden tertanggal 10 Februari 2004, memberikan penjelasan, sekitar kerasulannnuya. Bahwa ”perilaku terorisme dan kekerasan umat Islam mestinya mampu dibayangkan telah mengakibatkan kerusakan bumi dan umat manusia di dunia. Kebiadaban terorisme mempertontonkan kekeliruan cara beragama umat Islam”. Eden tidak melihat fakta yang sebenarnya, bahwa tindakan para teroris adalah suatu kebiadaban yang tidak mencerminkan keislaman. Para ulama dan sebagian besar umat Islam mengutuk, karena perbuatan itu sebuah penyimpangan dari ajaran Islam. Namun eden tidak mau tahu, ia tetap melihat tindakan para teroris itu sebagai tindakan yang merepresentasikan umat Islam di seluruh dunia. Dengan memandang seperti itu, eden hendak memojokkan Islam, dan mencari-cari celah untuk memperoleh pembenaran atas tuduhannya.

Eden bahkan menggunakan ayat al Qur\an sebagai pembenar atas risalahnya. Berarti menempaatkan dirinya selevel dengan para nabiyullah, seperti nabi Nuh As., Isa As., Ibrahim As dan Muhammad Saw. Dan semua orang di luar dirinya, yakni yang tidak percaya pada risalah eden, dipandang sebagai orang kafir atau kaum penentang Tuhan. Eden mengutip kisah Nabi Nuh saat memperkenalkan ajaran Tuhan, yang mendapat tentangan dari umatnya. Sehingga terjadilah banjir besar yang menenggelamkan para penentangnya. Kisah penentangan itu diabadikan oleh Al Qur’an sebagaimana tertera di S. Al Qamar ayat 9 : Sebelum mereka telah mendustakan kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami seraya berkata, “Dia gila, dan dia (pernah) diancam.” Dengan menggunakan ayat itu, Lia eden hendak menuduhkan kekufuran kepada orang lain, hanya karena tidak percaya pada “kerasulan Lia Eden”. Para penentang eden dipandangnya sebagai orang-orang yang layak mendapat hukuman setara dengan hukuman Allah kepada umatnya nabi Nuh.

Itulah pembohongan publik oleh Eden, yang kini masih terus dilakukan. Sasarannya adalah umat Islam. Umat yang jelas keberimanannya ini, hendak disudutkan secara sistematis dengan dalih menyelamatkan dunia. Kitab suci Al Qur’an dijadikan pijakan referensi, untuk mengelabuhi umat Islam bahwa risalah-risalah eden itu seakan benar adanya. Ada pemutarbalikan fakta keberimanan: bahwa yang beriman dimasukkan dalam golongan kafir dan yang kafir dimasukkan sebagai kaum beriman”. Ukurannya hanya “percaya atau tidak percaya kepada risalah eden”.

Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [3]

10 Saturday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Ruang Penyelarasan

≈ Comments Off on Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [3]

Kami adakan ruang untuk penyimpanan modus fitnah-fitnah Marzani Anwar terhadap Eden. Dan demi periwayatan Kerasulan Eden, maka tulisan-tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com dan di blognya kami simpan di Website Eden untuk diabadikan sehingga bisa dikaji oleh publik. Demikian tertera sebagai berikut tulisan-tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com dan diblognya:

Pembohongan Publik Cara Eden ( Bagian 1)

25 Agustus 2015

Komunitas Eden adalah sebuah perkumpulan keagamaan berciri messiah. Ideologi messiah adalah mendasarkan pada kepercayaan adanya seorang yang menjadi juru selamat di akir zaman. Istilah messianic juga biasa digunakan untuk menjelaskan tentang sebuah gerakan yang membawa nama Al Masih, putra Maryam yang dipercayai akan lahir kembali dan memberi peringatan kepada umat manusia. Keyakinan akan adanya kebangkitan kembali, itu ada pada kalangan umat Islam dan pada umat Nasrani.

Sudah terlalu banyak orang mengaku sebagai juru selamat akhir zaman. Lia Aminuddin adalah salah satunya, yang sejak awal mengaku dirinya sebagai reinkarnasi Bunda Maria, yang kemudian menegaskannya sebagai ruhul kudus . Dengan keyakinannya memperoleh wahyu dari Tuhan, memiliki cita-cita untuk menciptakan “zaman sempurna”. Dalam pandangannya, zaman ini adalah zaman yang sudah rusak, dan “tiadalah Allah menurunkan sebuah takdir kerasulan di akhir zaman”, katanya, ” bila bukan karena dosa-dosa umat manusia telah melampaui batas. Dan tiada seorang pun yang dapat mengubah keadaan ini sebaik Allah sendiri yang berkehendak mengubah-Nya”.

Bunda Lia, demikian sering dipanggil oleh pengikutnya, nukan saja diyakini sebagai ruhul kudus, tetapi juga mengklaim memiliki kewenangan untuk menghakimi umat manusia. Bahwa mereka yang berbuat dosa dan berbuat kerusakan akan dihakimi olehnya, dalam rangka penyucian. Sebagai ruhul kudus juga, ia menubuatkan keadaan umat manusia di wilayah tertentu, sebagai cara tuhan untuk menyucikaan kelompok manusia bersangkutan.

Mengikuti kepercyaan Lia Eden sebagai ruhul kudus, berlanjut dengan klaim bahwa ia adalah pemegang kekuasaan yang dipercaya memperoleh kewenangan menghakimi umat manusia yang berdosa. Dengan kewenangannya itu, kekuasaan Lia seperti membayangi kekuasaan Tuhan. Ia menegaskan, bahwa salah satu tugas sebagi ruhul kudus, adalah menghakimi masyarakat. Takdir kerasulan, demikian komunitas eden biasa menyebutnya, meyakini bahwa Lia memiliki kekuasaan penuh, untuk bertindak dan berpesan kepada dunia, atas nama tuhan.

Atas nama “penghakiman eden”, setiap musibah ditarik ke ranah hukum “sebab-akibat”. Bahwa segala kejadian yang buruk, yang menimpa para penentangnya, dipandang sebagai hukuman Tuhan. Sebaliknya, segala sesuatu yang baik atau kebaikan yang ada di eden, diklaim sebagai bagian dari kemurahan tuhan kepada mereka karena mengikuti jalan kebenaran.

Komunitas Eden, tampak terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Ada egoisme kelompok di di sana. Mereka sibuk “menghitung-hitung” setiap kejadian yang menyentuh kepentingannya. Sibuk bermanuver tentang tulah-tulah penentangan terhadap dirinya. Sampai juga mengkat masalah terjadinya perang Israel dengan Palestina, di mana pihak Palestina paling sering mengalami kekalahan. Lia bukannya simpati dengan perjuangan rakyat Palestina. Tapi bermanuver, “sekarang ini, tuhan sedang memakai Israel untuk alat menghancurkan Islam”. Jadi, selalu ada saja fakta yang dijadikan pmbenaran risalah penghakiman Eden, seperti itu. Dalam konteks seperti ini, menjadi salah satu bukti, bahwa klaim Lia sebagai pendamping malaikat Jibril, hanyalah tipu-tipu. Sebab, tidak mungkin sang malaikat, yang demikian sakral dan suci itu, ikut-ikutan berpikir negatif (negative thinking), dengan tendensi memojokkan agama Islam.

Ketika bencana menimpa di suatu daerah, entah berupa banjir, gempa bumi, atau tanah longsor, komunitas ini bukannya terketuk rasa kemanusiaannya, untuk kemudian membantu para korban. Bukan pula berupaya menghimpun dana untuk menyantuni mereka. Tetapi justru bermanuver, dengan pernyataan-pernyataan bahwa bencana-bencana itu merupakan tulah atas kesalahan bangsa Indonesia, karena mengingkari kerasulan Lia Eden.

Lia eden juga yang menyatakan bahwa bencana lumpur Sidoarjo, yang telah menenggelamkan ribuan rumah penduduk, merusak infrastruktur wilayah tersebut, tidak bisa diatasi dengan teknologi apapun. Itu merupakan bagian dari kemurkaaan Tuhan karena perlakuan bangsa Indonesia terhadap utusan Tuhan. Maksudnya adalah terjadinya pengadilan atas diri Lia Eden dan Abdul Rachman di Peradilan Negeri Jakarta Pusat, atas tuduhan penodaan agama beberapa tahun yang lalu.

Sejak awal mengikrarkan diri sebagai ruhul kudus memang, sekaligus ia menempatkan diri sebagai ”hakim umat manusia”. Dia memandang bahwa musibah-musibah yang besar, yang terjadi di Indonesia, merupakan penghakimannya, karena pengingkaran terhadap kerasulan tersebut. Padahal seperti diketahui, bahwa musibah-musibah itu terjadi, semata-mata adalah atas kehendak Allah. Benar ada juga karena kerusakan akibat perbuatan manusia, tapi eksekusi musibah itu adalah di Tangan Allah. Sebagaimana tertuang dalam ayat al Qur’an S. al Maidah/5: 49. ” … sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka”. Di ayat itu jelas menyatakan, bahwa kejadian luar biasa yang berupa musibah itu bukan kehendak manusia, tetapi Allah punya Kehendak. Karena memang tidak ada kewenangan manusia untuk menentukan kehendak seperti itu. Seorang Rasul Allah sekalipun, tidak ada kewenangan untuk menimpakan suatu musibah. Tidak pula berkewenangan menghakimi manusia. Seperti dicontohkan, pada waktu umat nabi Nuh a.s, tidak mentaati Nuh, kemudian datang musibah, tidak berarti Nabi Nuh a.s. yang mendatangkan musibah banjir itu, tetapi musibah banjir itu datang atas kehendak-Nya.

Namun dalam pandangan Lia eden, ia berkewenangan menghakimi manusia, kemudian menimpakan musibah-musibah itu. Terutama yang disebabkan umat tidak mau mendengarkan ajakannya, tidak mau mengakui kerasulannya. Menurutnya, umat Islam sekarang ini di mata Allah sudah tidak lagi mencerminkan sebagai pengamal agama yang benar, karena mengabaikan kerasulannya Lia eden. Klaim-klaim itu biasa dijustifikasi dengan adanya peristiwa musibah yang sebenarnya sudah lewat waktunya dari keluarnya pernyataan eden. Dengan kata lain, klaim bahwa ia bisa menghakimi umat manusia itu, hanya akal-akalan untuk menjadikan dirinya sebagai sang peneyelamat akhir zaman

Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [2]

10 Saturday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Ruang Penyelarasan

≈ Comments Off on Tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com [2]

Kami adakan ruang untuk penyimpanan modus fitnah-fitnah Marzani Anwar terhadap Eden. Dan demi periwayatan Kerasulan Eden, maka tulisan-tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com dan di blognya kami simpan di Website Eden untuk diabadikan sehingga bisa dikaji oleh publik. Demikian tertera sebagai berikut tulisan-tulisan Marzani Anwar di Kompasiana.com dan diblognya:

Dosa Sosial Komunitas Eden

17 Agustus 2015

Beberapa waktu yang lalu, saya menurunkan tulisan tentang Komunitas Eden di forum ini. Sebuah komunitas keagamaan, yang telah menyedot banyak perhatian. Terutama sistem kepercayaan dan pemikirannya yang sangat kontroversial. Klaim Lia Eden sebagai pimpinan komunitas, yang mengaku menerima wahyu dari Tuhan melalui mlaikat Jibril, bahkan dia sendiri mengaku sebagai ruhul kudus itu sendiri. Dari klaim nya seperti itu, ia sering menebar ramalan mengenai nasib umat manusia akhir zaman. Namun semua ramalan itu tidak pernah menjadi kenyataan.

melalui m ilisnya komunitas eden.com, belakangan ia memberikan penjelasan mengenai keikhlasannya dalam mengawal tugas kerasulannya, ia mengaku untuk terus menjagga kesuciannya. Oleh karena itu, dalam keadaan apapun komunitas ini tidak mau menerima atau memanfaatkan bantuan, dari siapapun orangnya yang belum disucikan.  pulang. Namun yang ironis, sebagaimana pengakuan dalam milis tersebut, bahwa sumber dana Eden untuk sekarang ini adalah dari dua oramg angggotanya yang benama Bpk. Arifin dan Elfa Diasmara. Nama yang disebut pertama adalah mantan dosen fakultas Teknik UI. Sedangkan yang kefua, yakni Elfa Diasmara, adalah seorang karyawan perusahaan swasta yang berkantor di kawasan bisnis Kuningan. Saya tahu, bahwa Elfa adalah anggota baru, yang masuknya ke Eden sejak akhir Mei 2015. Sejak ia masuk Eden setelah menjalanii ritual pensucian. Sejak itu ia terus bertempat tinggal di rumah Jl Mahoni 30, pusatnya komunitas ini. Sampai sekarang, Agustus, Elfa yang sudah berumahtangga dan dikaruniai 2 anak itu, ia tidak pernah pulang menemui isteri dan anaknya, begitu masuk Eden ia berhenti menafkahi keluarganya. Seluruh gajinya diserahkan ke Eden, dengan alasan ‘untuk membiayai kepentingan Tuhan’. Tangisan sang isteri dan anak-anak tidak dihuraukan.

Ironisnya, bahwa penelantaran anak isteri itu terjadi justru sejak ia ‘disucikan’ di Eden. Oleh saudara2nya sudah diingatkan tentang kewajiban menafkahi keluarganya tersebut, namun justru ia beralasan ‘lebih mendahulukan kepentingan tuhan’. Kesediaan Elfa menyerahkan seluruh gajinya ke Eden itu, dianggapnya sebagai cara tuhan membantu Eden  Padahal pada gaji Elfa itu ada bagian yang menjadi hak sang isteri dan anak anaknya.

Kasus ini tidak hanya membuktikan bahwa  komunitas Eden tidak hanya menyesatkan secara teologi, tapi telah melecehkan tanggungjawab kemanusiaannya. Merampok hak hak orang, dengan secara paksa.

Do you want to know?

09 Friday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Room of Poetry

≈ Comments Off on Do you want to know?

puisi 17

Who does know?
If angels could not be silly
Because they always know
What is surpass the limit, what should be watched

Silliness could only happen if we don’t know the limit
And if we focus with our own wish
Because it could then be a greed or ungratefulness

Why angels are not clumsy upon themselves?
They always stay above and always neutral
They can’t to be taken to anywhere
just because we believe in God

They can’t be fooled by many reasons
They could always grasp anything behind the reason
If it is not right, then there is no angel there

Human should know
That the sound of truth is the sound of angel
And deceit is the sound of devil

Human should know
That angels always know
human likes to manipulate the truth

As for skepticism is in between right and wrong
But don’t move from the right thought
So the fear to be mistaken is eliminated
Don’t be afraid of making friend with angels
So that the truth could not remain silent

Succession

09 Friday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Room of Poetry

≈ Comments Off on Succession

puisi 16

Opinion controversy is increasingly sharpened
Disunity can’t be avoided
Haze is proper to be likened as the cloud of sin

SBY reminded the issue of military coup
Don’t distrust if the issue has been raised
But isn’t there someone who want succession?

Not giving but want to revoke
Can’t understand what would be disputed
For the country has covered by haze
Nothing is not filled with difficulties

So what if the whole country’s problems are difficult to be taken care of?
Always mourning with various problems
Many opinions are creating frenzy
Dispute, betray and make use of one another
become an endless commotion

it is impossible to surrender
Gaining a victory is also impossible
who is winning? Who is being opposed?
But all are collapse

God doesn’t sleep
But He let all happen
So everyone would know himself

My Fantasy about Beauty

09 Friday Oct 2015

Posted by Komunitas Eden in Room of Poetry

≈ Comments Off on My Fantasy about Beauty

puisi 18

When I fantasize about beauty
I want it to be with the truth
When I fantasize about the truth
I want it to be with beauty

Then I fantasize arranging flower
in a clear glass like this
Then I ask
Where is its truth?

Ask me not to arrange the truth in there
Because the truth can’t be arranged as arranging the flowers

Truth can only be massive if it is maintained
Truth can’t be lackluster if it is the best kind
And the truth is just beautiful
If it has been tested by calumny and oppression

The new truth is usually less preferred for it is uncommon
The hard thing is, that the common truth won’t budge even a slight
Whereas it already loose with age

I rub gently the new truth that is still solid
What should I do to make it becomes a general truth

Ugh, there is no way
Except to declare this new truth is beautiful
appeasing and become a solution as well

← Older posts
Newer posts →

Buku-buku Eden

  • Teologi untuk Pancasila
  • Teori Segalanya dari Tuhan
  • Tuhan Menjawab Penelitian ‘Proving God’
  • Tuhan Menjelaskan Masa Depan Indonesia

Pertanyaan & Jawaban / FAQ

  • Pertanyaan yang Sering Diajukan ke Eden
  • Frequently Asked Questions (FAQ) to Eden

Newest Releases

  • Merayakan Hari Raya Surga, Malam Tahun Baru 2024
  • Serumpun Ilmu Baru dari Tuhan akan Disampaikan oleh Ruhul Kudus
  • Dampak Perang Dunia Mengakibatkan Gejolak Kiamat Menjadi Lebih Parah
  • [Song] Pancasila Sakti
  • Berdoa Dipersonalkan, Tak Perlu Perantara, Pemberkatan Langsung dari Tuhan
  • Kitab Suci Surga adalah Kitab Kehidupan atau Ummul Kitab
  • Dunia Alam Ruh
  • Hukum Tuhan di Alam Ruh
  • Surga dan Neraka Itu Niscaya Teradakan di Dunia
  • Skema dan Penampang Jaringan Aliran Ruh Tuhan ke Seluruh Semesta

Releases by Year

  • 2022 Releases
  • 2021 Releases
  • 2020 Releases
  • 2019 Releases
  • 2018 Releases
  • 2017 Releases
  • 2016 Releases
  • 2015 Releases

Ruangan

  • Ruang Pengakuan Dosa
  • Ruang Berdoa
  • Ruang Kesaksian
  • Ruang Eksibisi Kemarahan
  • Ruang Penyelarasan

Visitors

  • 333,002 hits

Buku-buku Eden

  • Teologi untuk Pancasila
  • Teori Segalanya dari Tuhan
  • Tuhan Menjawab Penelitian ‘Proving God’
  • Tuhan Menjelaskan Masa Depan Indonesia

Our Social Media

YouTube Channel

Twitter

Facebook

Alamat / Address

Jl. Mahoni No.30
Bungur, Senen
Jakarta Pusat 10460 Indonesia

Telepon/Phone:
(+62 21) 424 7218

Email:
info@KomunitasEden.com

Follow Blog via Email

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 47 other subscribers

 

Loading Comments...